Rabu, 27 Maret 2013

BANJIR BANDANG-BOGOR-25 MARET 2013

Banjir yang tak disangka-sangka, tak di nyana-nyana ini tiba-tiba datang begitu saja bak tamu tak di undang di daerah Perwira, Dramaga, Bogor pada Senin 25 Maret pukul 00.30 dini hari. Siapa yang mengira kalau sungai kecil di kawasan tersebut yang biasanya tak pernah terisi lebih dari setengahnya tiba-tiba meluap sampai menenggelamkan semua rumah di kawasan Lingkar Perwira dan sekitarnya. 

Peristiwa tersebut berawal dari hujan deras yang mengguyur Bogor pada sore hari. Namun menjelang malam, hujan tersebut berhenti, hanya menjadi rintik-rintik gerimis. Kemudian pukul 23.00 hujan deras kembali mengguyur selama kurang lebih 1 jam. Tidak ada yang membayangkan maupun menyangka bahwa hujan tersebut akan mengakibatkan banjir karena selama ini tidak pernah terjadi peristiwa banjir di daerah tersebut meskipun hujan terus mengguyur selama seminggu. Sedangkan hujan hari itu hanya berlangsung beberapa jam. Tiba-tiba saja air sudah meluap sampai ke jalan dan mulai memasuki rumah-rumah maupun kost di saat semua orang sedang terlelap. Berikut adalah kisah memilukan penghuni salah satu kost-kostan di daerah tersebut.

Jam 00.00, dua orang penghuni kosan HR (AR & AH) yang terletak paling dekat dengan sungai, baru saja pulang dari menghadiri suatu acara di kampus. Pada saat itu memang masih hujan, namun belum ada tanda apa-apa akan datangnya banjir. Mereka pun dengan santainya bersiap-siap untuk tidur. Bahkan AR pun masih sempat berfoto-foto di kamarnya yang terletak paling depan. KK, yang sedang berselancar di salah satu media sosial online, membaca bahwa di kawasan tersebut sedang terjadi banjir. Kemudian dia menengok ke luar dan ternyata air sudah menggenangi halaman mereka dan mulai memasuki teras. Dia pun panik kemudian berteriak "BANJIR!! BANJIR!!" Sebagian yang masih belum tidur  (R yang sedang mengirim email tugas, AR dan AH yang bersiap tidur) segera keluar kamar dan mengecek apa yang terjadi. Sebagian yang sudah tertidur pun ikut terbangun, namun ada juga YANG masih lelap dalam tidurnya. Semua panik dan berteriak banjir....banjir... berharap yang tertidur segera terbangun. AY yang masih di kamar sedang bersiap-siap tidur merasa tidak percaya akan teriakan itu. Akhirnya dia pun membuka jendela kamarnya dan air sudah menggenang di bawah jendelanya. AY pun keluar kamar dan melihat sungai sudah sangat tinggi, bahkan air sudah mulai keluar dari lubang pembuangan di kamar mandi. Ternyata air sudah memasuki kostan bagian depan. Semua orang panik dan mencoba menghalangi air itu dengan beberapa kain, berharap air akan tertahan dan tidak bertambah. Namun, semuanya sia-sia. Air semakin cepat memasuki rumah dari semua lubang yang ada di rumah. Bahkan air mengucur dari bawah ubin seperti air mancur, sampai mampu mengangkat ubin. 

N yang baru terbangun masih linglung dan lupa arti banjir. RR yang tidur  pulas, sangat panik setelah dibangunkan, sempat terpeleset di depan kamar R saking paniknya. Semua orang panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya hanya mondar mandir kebingungan. Sadar akan kecepatan air yang tidak bisa ditoleransi lagi, akhirnya RR yang sudah menemukan kesadarannya kembali, memberi komando untuk segera keluar dari kostan dan mengungsi di tempat yang lebih aman. Semua pun segera kembali ke kamar masing-masing, meyelamatkan barang yang terlihat, teringat, dan dianggap penting serta berkemas dengan membawa nyawa para mahasiswa-LAPTOP & HP +charger (tanpa charger bagaikan Romeo tanpa Juliet---> ga ada ceritanya). 

Akan tetapi, yang namanya orang sedang panik, ada saja barang yang ketinggalan. Yang sudah keluar kamar, masuk lagi. Yang masuk lagi, ga keluar-keluar. Semuanya hanya mondar mandir keluar-masuk kamar selama kurang lebih 15 menit. Sesampainya di dekat pintu, semuanya panik mencari sandal atau sepatu yang bisa dipakai. Tapi sia-sia, selain ruang tamu sedang gelap, sandal dan sepatu pun sudah berlayar bersama aliran banjir yang deras. Pasrah, akhirnya memakai alas kaki apapun yang didapat dan segera bisa dipakai. Tragis, pintu pun tidak dapat dibuka karena air yang di luar lebih tinggi dari yang di dalam. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk keluar lewat pintu sebelah. Dengan tendangan keras dari RR, pintu pun terbuka. Tapi, belum sempat mereka keluar, tempat samaph yang tingginya nyaris 1 meter malah masuk duluan menghalangi jalan keluar. Setelah mempersilahkan tong sampah masuk, akhirnya mereka pun keluar. Ternyata air di luar sudah setinggi perut orang dewasa. T, yang memakai rok, merasa tidak nyaman sehingga dia memutuskan kembali lagi ke rumah untuk memakai celana, sehingga dia pun agak ketinggalan. 

Di jalan, air sudah di atas perut orang dewasa. Bahkan pegangan jembatan pun sudah tenggelam tak terlihat. Mereka pun menyeberang mengarungi banjir bersama-sama dengan sepenuh hati. W ketakutan dan menangis sepanjang jalan sambil berpegangan dengan G. KK yang ketakutan juga memeluk R, sehingga mereka malah kesulitan jalan. Dengan bantuan salah seorang penduduk, mereka pun berhasil menyeberangi jembatan yang tak terlihat. Akhirnya, sampailah mereka ke tempat yang lebih tinggi. Satu masalah selesai. Namun, muncul masalah baru. Mau ke manakah mereka di tengah malam begini, hujan dan dalam kondisi basah kuyup? Semua orang yang tidak terkena banjir sedang terlelap dan tak tahu akan adanya banjir. Mereka pun memutuskan untuk ke pak RT. Beruntung, pak RT mendengar teriakan memilukan mereka dan mempersilahkan mereka masuk ke rumahnya. Sesampainya di rumah pak RT, semua orang segera menelepon keluarga masing-masing. AH yang tadi tabah, tiba tiba menangis. AR yang panik, ternyata mengenakan sepatu yang tidak sepasang, satu berwarna abu-abu, satunya lagi entah warna apa. AY kehilangan kesadaran hp nya karena terkena air banjir saat menyeberang. Semuanya sibuk dengan kepanikan, kesedihan dan kedinginan.

Untunglah setengah jam kemudian, ibu kost mereka datang dan menjemput mereka untuk mengungsi di tempatnya. Akhirnya mereka mendapat tempat untuk tidur yang nyaman, baju ganti, dan yang paling penting adalah makanan. Mereka pun beristirahat dengan tenang malam itu di rumah ibu kost.

TO BE CONTINUED.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar