Jumat, 12 Oktober 2012

7 years of love


Tidakkah pernah kau melihatku? Selama ini aku hanya melihatmu dari jauh. Kupikir setidaknya kau tahu aku, seperti yang lain. Karena memang aku sedikit berbeda dari mereka. Namun, bahkan namaku pun kau tidak tahu. Tapi, tidak apa. Setidaknya sekarang Tuhan telah memberiku kesempatan untuk dekat denganmu. Sayangnya, kesempatan itu terlalu singkat. Dan akupun kembali ke posisi semula. Melihatmu dari jauh. Melihatmu tersenyum bersama mereka. Andai saja mereka itu adalah aku. Sayang, aku hanya penonton yang lewat begitu saja. Bahkan kau melirikku saja tidak. Canda yang dulu sering kulontarkan untuk bisa dekat denganmu, sepertinya hanya kau anggap sebagai angin lalu. Sapaku setiap bertemu denganmu pun hanya kau balas dengan senyum tipis. Sekarang aku sadar, bahwa kau tidak pernah menganggapku lebih dari itu. Ya, aku juga sadar siapa diriku. Kau tidak mungkin melihatku seperti aku melihatmu. 

Kau menarik. Kau berbeda dengan yang lain. Belum pernah kulihat orang sepertimu secara langsung. Kau menarik perhatianku sejak pertama kali aku melihatmu. Namun, waktu berlalu bersama dengan kesibukanku dan akhirnya akupun melupakanmu. Tetapi, Tuhan berkata lain. Dia membawamu kembali ke hadapanku. Sikapmu ramah dan bersahabat. Celakanya, aku juga manusia normal yang punya insting.  Tapi aku menutup mata, telinga dan hatiku. Aku tahu ini tidak akan mungkin. AKu tahu siapa aku dan siapa dirimu.  Ini tidak akan berakhir baik. Aku bersyukur, waktu itu hanya singkat. Sehingga aku bisa kembali ke posisi semula. Menarik diri dan melupakanmu. Meskipun kau masih sering menyapaku, tapi aku menahan diri. Hanya itu yang bisa kulakukan. 

***
Waktupun berlalu merenggutmu dari kehidupanku. Kau pun pergi ke dunia baru. Sedangkan aku masih di sini. Diliputi kesibukan untuk bisa masuk dalam dunia baru juga. Dunia yang sebenarnya. Aku pun mulai tidak memikirkanmu. Baguslah. Tanpa terasa, dua tahun telah berlalu sejak terakhir aku melihatmu. Sekarang aku telah memasuki dunia baru. Mencari-cari dunia mana yang cocok untukku. Dunia di mana apa yang aku inginkan tersedia di sana. Ya, aku menemukannya. Tidak. Aku menemukanmu kembali. Awalnya aku kira hanya halusinasi. Tapi tidak. Itu sungguh dirimu. Kau tidak banyak berubah. Tentu saja, sekarang kau sudah berubah lebih dewasa dan menarik. Aku tidak percaya Tuhan mempertemukan kita kembali. Apakah kau masih mengingatku? Masihkah kau mengenaliku?

Saat mereka memperkenalkanmu padaku, aku sungguh tidak percaya. Benarkah ini kau? Dua tahun aku telah melupakanmu. Tiba-tiba takdir membawamu kembali lagi ke hadapanku. Dan kali ini benar-benar di hadapanku. Tidak, ke mana saja aku pergi, takdir membawamu ada di tempat itu. Tidak hanya di tempat kerja, bahkan tempat tinggalmu pun bersebelahan denganku. Tidak hanya itu, di jalan, di pertokoan, kau selalu tiba-tiba muncul. Aku benar-benar tidak bisa menghindari takdir ini. Apa yang harus kulakukan?

Keberuntungan memang sedang berpihak padaku. Tuhan sedang melambungkanku setinggi langit. Sekarang aku benar-benar dekat denganmu. Tak ada waktu yang tidak kulewatkan bersamamu. Di tempat kerja, di tempat makan, bahkan di pertokoan pun kita selalu bersama. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan lagi selain itu. Perasaan yang kupikir telah hilang, ternyata masih tersimpan utuh dan sekarang mulai mekar kembali. Aku benar-benar menikmati masa ini. Tidak peduli seberapa berat pekerjaan yang kulakukan, tidak masalah asalkan aku bisa melihatmu di dekatku setiap hari. Tersenyum padaku, bercanda dan menangis.

Perjodohan? Itulah yang dilakukan keluargaku mengingat umurku sudah cukup untuk menikah, tetapi kekasih pun aku tidak punya. Aku terbuai akan kebahagiaan semu denganmu. Kebahagiaan semu? Ya, tentu saja. Karena aku tahu semua ini tidak akan ada kelanjutannya. Aku harus sadar dan menginjak kehidupan sesungguhnya. Kehidupan yang seharusnya aku jalani. Bukan bersamamu. Tapi, bersama orang lain. Orang yang sama denganku.

Setelah Tuhan melambungkanku, tiba-tiba dia menghempaskanku ke dasar bumi. Sungguh menyakitkan. Dijodohkan? Kau akan dijodohkan. Dan kau terlihat antusias dan gembira. Apakah selama ini kau tidak pernah sekalipun melihatku? Melihatku sebagai laki-laki, bukan sebagai teman maupun junior? Hei, sadarlah. Siapa aku ini? Bukankah aku sudah tahu hal ini sejak awal bahwa ini tidak akan mungkin. Ingat, siapa diriku dan siapa dirinya. Kupandangi diriku di cermin. Percuma saja mempunyai wajah tampan, otak cerdas. Tetapi mencintaimu saja aku tidak pantas. Seharusnya aku sadar dari awal bahwa kau memang tidak akan pernah melihatku seperti itu. Untuk apa aku marah? Aku tidak berhak marah. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku. Apakah aku masih punya harapan?
Pilihan keluargaku tidak salah. Pria itu sungguh baik dan menyenangkan. Ditambah, dia dulu adalah cinta pertamaku yang belum kesampaian. Meskipun perasaan itu sudah lama hilang, karena tergantikan olehmu. Tapi tidak masalah. Siapa tahu dia bisa membersihkan hati ini yang sudah dipenuhi olehmu. Sedikit demi sedikit aku mulai menarik diri darimu dan dekat dengannya. Bahkan di ulang tahunmu aku tidak datang karena sedang pergi dengannya. Tak kusangka, ketidakhadiranku di kejutan ulang tahunmu ternyata berakibat fatal. Kau marah padaku. Kau selalu menghindariku bahkan tidak mau bicara denganku. Aku tidak mau hubungan kita kacau seperti ini. Ok, aku mengalah.

Kau membuat kejutan ulang tahun sendiri untukku sebagai ucapan minta maaf. Melihatmu melakukan ini, sungguh hatiku luluh. Perasaan itu pun semakin mekar tak terkendali. Aku mencintaimu. Sungguh. Aku mencintaimu. Mungkin Tuhan dan seluruh jagad raya tahu hal ini, meskipun kau tidak tahu karena aku tidak pernah mengucapkannya. Aku takut kau akan menjauh dariku. Karena aku tahu, sekarang ada dia di sisimu. Kadang aku berpikir, mungkinkah kau juga mencintaiku. Walaupun aku tahu pikiran itu hanya sia-sia. Tapi sayang, apa yang kuucapakn ternyata tidak di dalam hati. Kau telah mendengarnya. Ya Tuhan. Kau mendengarnya. Tanpa sadar bibir ini mengatakannya.

Celaka. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan ini. Perasaan ini terus tumbuh meskipun aku berusaha menghilangkannya. Dan apa yang kau katakan? Kau mencintaiku? Apa yang harus kulakukan? Rasanya aku ingin memelukmu dan mengatakan bahwa aku juga mempunyai perasaan yang sama. Tapi akal sehatku bertindak lebih cepat. Ini tidak boleh. Kau tahu? Ini tidak boleh. Sejak awal aku sudah tahu apa yang ada di hatimu. Aku tahu apa yang kau inginkan. Tapi aku menutup mata, telinga dan hati untuk menyelamatkan perasaan kita. Tapi tak kusangka, kau mengatakannya juga. Aku harus menghentikannya. Semua harus berakhir sampai di sini.

Sekeping hatiku yang masih terselamatkan tiba-tiba hancur tak tersisa. Kau tiba-tiba menyodorkan undangan pertunanganmu dengannya di depan mataku. Memang, sejak kejadian itu, hubungan kita jadi aneh. Kita jarang bicara, karena aku juga bingung bagaimana harus bersikap padamu. Tapi tak kusangka kau akan melakukan ini. Skak match. Aku kalah telak. Tidak ada harapan lagi. Meskipun aku berusaha menabahkan hatiku, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Harapanku sudah benar-benar musnah. Kupikir cerita tentang patah hati yang ada di novel maupun drama itu berlebihan. Ternyata benar. Rasanya duniaku bagaikan runtuh. Runtuh dan aku terjebak di dalamnya. Tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan hatiku. Aku tidak bisa. Jalan terbaik yang bisa kulakukan adalah pergi. Pergi sejauh mungkin darimu. karena aku tidak akan mampu melihat dia melingkarkan cincin di jari manismu, di mana itu adalah impianku sejak dulu.






1 komentar:

  1. haishhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh..... not happy ending. huhuhu

    Visit http://pikadita.blogspot.com

    promosi. ahahhaaa

    BalasHapus