Senin, 16 Mei 2011

ever after

Aku berdiri di tengah panggung dengan tepuk tangan yang riuh menyambutku.Tak kusangka, seorang Amelia Dewi berdiri di sini bukan dengan sepatu baletnya, tetapi dengan sebuah piano. Ya, sekarang adalah konserku yang sudah kesekian kalinya. Aku pemain piano terkenal yang sudah keliling di berbagai negara. Setelah tepuk tangan usai, aku duduk di depan pianoku dan jariku mulai menari-nari di atas tuts piano. Kumainkan sebuah lagu yang mengingatkan masa laluku. Ingatanku pun melayang kembali ke delapan tahun yang lalu.
***
Kupandangi sungai jauh di bawah kakiku. Aku mambayangkan jika aku terjun dan tenggelam di sana, maka masalahku akan selesai. Kunaiki pembatas jembatan, tetapi nyaliku ciut. Aku takut. Tapi aku benar-benar putus asa. Kuberanikan diriku untuk melakukannya. Tetapi keberanianku hilang lagi. Tiba-tiba ada suara, “ Ayo, loncat saja! Kenapa? Takut?”
Aku kaget dan mencari sumber suara itu. Tidak jauh dariku ada seorang pemuda, yang kuketahui kakak kelasku di sekolah yang sangat pendiam, tapi aku tidak tahu namanya. “ Jangan campuri urusanku! Pergi!” perintahku.
“ Aku cuma ingin lihat keberanianmu. Cuma segitu nyalimu?” katanya. Aku kesal dan benar-benar akan terjun ke sungai itu. Tapi kemudian dia menarikku sehingga aku turun dari pembatas jembatan. “ Lepaskan? Apa sih maumu?” tanyaku kesal.
“ Kamu sendiri mau apa? Bunuh diri? Dasar cengeng!” bentaknya.
“ Kamu nggak tahu apa-apa tentang hidupku!”
“ Justru kamu yang kamu nggak tahu apa-apa! Anak kecil seperti kamu tahu apa tentang kematian? Kamu pikir masalah kamu akan selesai?”
“ Udah nggak ada gunanya lagi aku hidup. Aku sudah tidak bisa menari lagi?” tangisku pecah.
“ Apa karena tidak bisa menari hidupmu akan berakhir?” tanyanya. Aku tidak menjawab dan terduduk sambil menangis. Aku tidak pernah menyangka hal ini terjadi padaku. Aku penari balet yang sangat berbakat. Di umurku yang ke 17 ini aku sudah menjuarai berbagai lomba tari balet di beberapa negara di dunia. Tapi beberapa waktu lalu kakiku cedera dan dokter memvonisku tidak dapat menari lagi. Hatiku benar-benar hancur. Balet adalah kehidupanku. Jika aku tidak menari lagi, sama halnya aku dengan mati.
“ Kaki kamu memang tidak bisa menari lagi. Tapi kamu masih punya tangan,” katanya. Aku mengangkat kepalaku dan bertanya,” Maksudmu?”
“ Kamu masih bisa menggunakan tanganmu untuk menggantikan kakimu.”
“ Aku tidak mengerti maksudmu,” kataku penuh tanda tanya.
“ Ikut aku!” Katanya seraya menarik tanganku dan membawaku ke ruang musik sekolah.
“ Kamu bisa memainkannya, kan?” tanyanya sambil menunjuk sebuah piano. Sekarang aku mengerti apa maksudnya.
“ Kalau kamu tidak bisa menjadi penari, kmau masih bisa menjadi pianis. Setiap cobaan pasti ada hikmahnya. Jika Tuhan mengambil sesuatu dari kamu, Dia pasti akan memeberimu sesuatu yang baru lagi. Hanya saja kita harus pintar menemukan pemberian itu. Kamu ngerti maksudku, kan?” dia menasehati. Benar juga omongannya. Semangatku mulai hidup kembali. Aku harus bangun dari mimpi buruk ini. Aku duduk dan mulai memainkan piano itu. Dia pun duduk di sebelahku, dan memainkannya juga. Kami bersama-sama memainkan piano itu. Walaupun hanya lagu sederhana, tapi di telingaku lagu itu terdengar indah.
“ Kamu nggak boleh nyerah. Kamu harus bangkit dari keterpurukanmu dengan memulai sesuatu yang baru.”
“ Makasih ya. Nasehatmu sangat berguna untukku,” ucapku. Dia hanya tersenyum. Kuulurkan tanganku seraya berkata,” Namaku Lia.” Dia pun menjabat tanganku dan berkata,” Gilang.”
Sejak saat itu kami bersahabat. Gilang selalu setia menemaniku belajar piano. Dialah yang membuatku merasa hidup kembali. Dia telah membuatku bangun dari keterpurukan ini. Kutekuni permainanku hingga aku berhasil menjuarai kontes di tingkat sekolah, regional, dan akan maju di tingkat nasional. Ini adalah kontes piano pertamaku di tingkat nasional. Jika aku berhasil, aku akan mewakili negaraku di tingkat internasional.
“ Lang, besok kamu nonton, kan?” tanyaku padanya.
“ Tentu saja. Ini kan kontes pertamamu di tingkat nasional. Aku ada sesuatu untuk kamu,” katanya sambil menyerahkan gantungan ponsel berbentuk lonceng kecil,” Kita samaan lho.” katanya kemudian.
“ Lucu banget. Sepasang ya? Makasih ya.”
“ Sama-sama. Anggap aja hadiah dariku untuk kegigihanmu. Good luck ya.”
Aku sangat bahagia. Aku bertambah semangat untuk memenangkan kontes ini. Tapi sayang, sejak kontes dimulai sampai pengumumuman pemenang, Gilang tidak muncul. Aku cemas dan sedih. Bahkan saat juri menyebut bahwa aku juaranya, aku tidak segembira yang aku bayangkan. Aku sangat berharap tiba-tiba Gilang datang. Tetapi Gilang tak pernah datang.
***

Permainanku berhenti setelah menyelesaikan lagu terakhirku. Tepuk tangan kembali memenuhi seluruh ruangan. Aku berdiri dan membungkukkan badan sebagai ucapan terima kasih pada penonton. Tiba-tiba ada seseorang yang berlari naik ke atas panggung dan mendorongku hingga jatuh. Saat itu juga, lampu panggung yang ada tepat di atas kepalaku terjatuh. Aku syok. Para penonton mulai ribut. Panitia segera menurunkan tirai panggung dan menolong kami. Setelah aku mulai tenang, aku melihat sebuah kamera digital tergeletak di tempat kami jatuh. Aku mengambilnya dan mencari pria yang menolongku untuk mengembalikan kamera ini dan mengucapkan terima kasih. Aku melihatnya sedang berjalan lalu aku memanggilnya.
“ Tunggu!” dia berheti dan menoleh. Aku kaget melihat wajahnya yang penuh luka parut seperti bekas luka bakar. Dia memakai topi berusaha menutupinya.
“ Terima kasih meneyelamatkanku. Ini punyamu kan?” aku menyerahkan kamera itu.
“ Untukmu saja,” katanya lalu pergi. Aku bingung. Kulihat isi kamera itu. Penuh foto-fotoku setiap konser. Aku tambah bingung. Kemudian aku lihat gantungan kamera itu. Sebuah lonceng kecil! Hatiku tersentak. Gilang? Aku kembali memandang pria yang sedang berjalan itu dan memanggilnya.
” Gilang?” Dia pun berhenti dan menoleh.
Aku benar-benar tidak percaya. Saat ini baru kukenali wajah itu. Meskipun jauh dari wajah Gilang yang dulu karena tertutupi bekas luka bakar, tapi aku masih ingat sorot matanya. Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Tanpa terasa air mataku meleleh. Aku mendekatinya. Tetapi penjaga melarangku pergi karena aku harus menghadiri konferensi pers. Aku meronta berusaha melepaskan diri. Tapi penjaga tidak melepaskanku dan Gilang pun berlalu.
“ Gilang, tungguuuu!” teriakku. Tetapi Gilang tidak menghiraukanku hingga lenyap dari pandanganku. Tangisku pecah. Aku tidak percaya dengan nasib Gilang. Mungkin itu adalah penyebab dia tidak pernah muncul 8 tahun yang lalu. Namun, ternyata dia selalu hadir di setiap konserku meskipun aku tak pernah menyadarinya.
Gilang, dimanapun kamu, bagaimanapun keadaanmu sekarang, aku tidak akan pernah melupakanmu dan jasamu. Kamu adalah seseorang yang berdiri di belakang kesuksesanku sekarang. Kamu yang telah membangkitkanku dari keputusasaan. Dukunganmu selalu membakar semangatku untuk melakukan yang terbaik. Terima kasih Gilang. Terim Kasih.
Kupeluk kamera itu. Akan kusimpan kenangan itu di dalam hatiku, seumur hidupku, selamanya.

2 komentar: